Sayang... lewat kamu, Papah pertama kali mengeja arti kata
"Orang Tua". Kamu adalah "ruang kelas" pertama bagi Papah.
Maafkan Papah, karena seringkali kamu harus menjadi 'kelinci percobaan' dari
segala kebingungan Papah dalam mendidik anak.
Karena kamu yang pertama, Papah sering kali menuntutmu
menjadi contoh yang sempurna. Papah menitipkan ekspektasi yang begitu besar,
tanpa sadar kalau pundak kecilmu terlalu lelah memikulnya sendirian.
Papah sering kali terlalu keras, terlalu kaku, dan terlalu
cepat menghakimi. Papah lupa... bahwa kamu bukan miniatur orang dewasa. Kamu
juga berhak berbuat salah, dan kamu juga berhak lelah menjadi "si sulung
yang harus selalu mengerti".
Untuk setiap bentakan yang membuatmu menangis diam-diam di
kamarmu... Untuk setiap tuntutan yang membuatmu merasa "tidak pernah
cukup" di mata Papah... Maafkan Papah ya, Nak. Sungguh, Papah hanya
terlalu takut gagal menjagamu dari kerasnya dunia.
Tapi ajaibnya... di tengah segala ketidaksempurnaan dan ego
didikan Papah, kamu tetap tumbuh menjadi wanita yang luar biasa kuat. Kamu
menyembuhkan luka-lukamu sendiri, dan tetap tersenyum membanggakan keluarga.
Harapan terbesar Papah kini cuma satu: Berhentilah memikul
beban dunia sendirian, Nak. Kamu tidak harus selalu terlihat kuat. Bahagialah
untuk dirimu sendiri, temukan jalanmu, dan ingatlah... Papah akan selalu jadi
rumah tempatmu kembali.
Terima kasih sudah bertahan menjadi putri sulung. Dari pria yang akan selalu menjadikanmu cinta pertamanya,
— Papah.